Apa itu Sikap, Sifat, Watak & Karakter yang Menjadi Penentu Kesuksesan Seseorang dalam Menjalani Hidup

Jasindopt.com – Hidup itu sebuah pilihan, Pilihan itu sebuah perjuangan, dan Perjuangan itu sebuah keindahan”. Oleh Al Mubarak. Sikap, Sifat, Watak atau karakter yang baik juga harus diterapkan dari sejak dini, anak yang belum paham akan tekanan lingkungan, maka harus dibekali karakter yang baik, akhlak serta moral yang baik.

Sikap jujur menjadi norma yang harus dipegang teguh oleh tiap individu. Kejujuran adalah akar kepercayaan. Begitu mahal harganya. Rentan membuat seseorang terjatuh. Semakin dipercaya akan sebuah tanggung jawab, semakin banyak hak (imbalan) yang bisa kita peroleh.

Di dunia kerja, ataupun dalam bisnis, semakin dipercaya oleh atasan atau klien, maka peluang untuk meniti karir atau mengembangkan bisnis akan terbuka lebar, dan kesuksesan akan menghampiri

Menurut Borba (2001), ada tujuh hal utama yang merupakan sifat baik dasar dari moral yang dapat membantu anak bersikap sesuai moral untuk menghadapi tekanan lingkungan. Sifat-sifat tersebut adalah:
1. Empati (Emphaty), yaitu emosi dasar yang memungkinkan anak memahami bagaimana perasaan orang lain.
2. Hati Nurani (Conscince), yaitu suara hati yang membantu anak memutuskan mana yang benar dan mana yang salah.
3. Kontrol Diri (Self-control), yaitu membantu anak mengendalikan dorongannya untuk berpikir sebelum bertindak.
4 Menghargai (Respect), yaitu mendorong anak untuk memperlakukan dan menganggap orang lain itu berharga.
5. Kebaikan (Kindness), yaitu membuat anak lebih memperhatikan kesejahteraan dan perasaan orang lain.
6. Tenggang Rasa (Tolerance), yaitu mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan kualitas tiap individu, seperti perbedaan ras, gender, budaya, suku, dan lain sebagainya.
7. Keadilan (Fairness), yaitu mengarahkan anak untuk memperlakukan orang lain secara layak, adil, dan tidak memihak, sehingga melatih watak anak menjadi orang yang adil dikemudian hari.

Setiap manusia memiliki gen dan rangkaian DNA yang berbeda-beda, sehingga jarang ada yang memiliki muka yang mirip – kecuali kembar identik. Masing-masing orang memiliki perbedaan fisik, bahkan pada saudara kembar yang identik pun masih terdapat perbedaan fisik.

Penampilan fisik yang terlihat, seperti warna dan gaya rambut, tinggi atau pendek, bentuk wajah, hidung, mulut, bahkan alis berbeda pada setiap orang. Perbedaan ini terbentuk akibat perbedaan gen serta DNA yang dimiliki oleh masing-masing orang.

Lalu, bagaimana dengan sifat dan perilaku seseorang? Apakah terbentuk juga dari gen dan DNA? Dari mana asalnya dan apakah genetik mempengaruhi perilaku seseorang? Sama seperti perbedaan fisik, setiap orang juga mempunyai perbedaan sifat, kebiasaan serta perilaku.

Namun pertanyaan yang masih menjadi misteri sampai saat ini adalah apa yang membentuk perilaku serta kebiasaan seseorang? Apakah hanya lingkungan atau genetik juga berkontribusi dalam hal tersebut?

Apa itu Sikap

Cara seseorang menanggapi suatu hal atau peristiwa dalam lingkungan, baik dalam tindakan maupun perasaan. Sikap seseorang bisa dilihat dan dinilai oleh oranglain.

Apa itu Sifat?

Pola perilaku seseorang yang hampir tetap berada dalam diri orang tersebut. Sifat biasanya dipengaruhi oleh orang orang terdekat maupun lingkungan dan sulit untuk diubah. Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda.

Dalam buku Deteksi Kepribadian yang disusun oleh H. A. Muin Ghazali dan Hj. Nurseha Ghazali (2022: 41), sifat adalah suatu objek yang tampak dan dapat diamati di antara kebiasaan atau tindakan yang selalu berulang.
Sederhananya, sifat merupakan sesuatu yang melekat pada diri manusia sejak lahir.

Apa itu Watak?

Perilaku seseorang yan sudah ada semenjak orang tersebut lahir dan mempengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang. Watak adalah cara pandang seseorang dalam menyikapi hal-hal dalam kehidupannya.

Watak manusia merupakan percampuran antara sifat baik dan sifat buruk sehingga tidak ada seseorang yang hanya memiliki sifat baik atau hanya memiliki sifat buruk.

Selain itu, watak juga bisa diartikan sebagai sifat atau karakter bawaan yang membedakan seseorang dengan orang lain. Watak juga bisa dilihat dari ucapan dan tindakan yang dilakukan seseorang, seperti apakah benar ia seorang yang penyabar, sombong, licik, baik hati, dan lain sebagainya.

Apa itu Karakter?

Tingkah laku seseorang seiring berjalanya waktu. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Berbeda dengan sifat, karakter adalah suatu hal yang dimiliki manusia dan diperoleh dari beragam faktor yang ada dalam lingkungannya.

Dalam buku Komitmen Membangun Pendidikan (Tinjauan Krisis Hingga Perbaikan Menurut Teori) yang disusun oleh Dr. M. Joharis Lubis, MM., M. Pd, Dr. Indra Jaya, M.Pd (2021: 341) dijelaskan bahwa karakter merupakan respons langsung yang dilakukan seseorang terhadap setiap stimulus yang datang dalam keadaan sadar.

Istilah “karakter” berasal dari bahasa Yunani “caracteer“ yang memiliki arti tanda, ciri atau gambaran yang diukir. Kepribadian seseorang terdiri dari kumpulan watak dan perilaku hidup yang membedakan dirinya dengan orang lain dan inilah yang dikatakan sebagai karakter.

Karakter ini tidak tercipta dalam waktu singkat tetapi tercipta dari suatu cara yang terulang-ulang menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan terulang menjadi sebuah tabiat dan tabiat yang terulang-ulang menjadi sebuah perilaku yang melahirkan sebuah budaya di mana gambaran budaya itulah yang disebut sebagai karakter.

Perbedaan Sifat dan Watak

Sekilas, antara pengertian watak dengan sifat tampak sama. Padahal keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Dimana perbedaan tersebut terletak pada beberapa aspek berikut ini: 

1. Pengertian 

Perbedaan yang pertama terletak pada pengertiannya, pengertian sifat adalah perilaku seorang individu yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sementara pengertian watak adalah karakter dan perilaku yang melekat pada individu. 

Jadi, sifat ini adalah perilaku yang terbentuk karena pengaruh dari luar. Sementara watak terbentuk dari faktor internal. Atau terbentuk dari sifat dasar yang secara alami dimiliki seorang individu sejak lahir. 

2. Faktor yang Mempengaruhi 

Perbedaan berikutnya adalah terletak dari faktor yang mempengaruhi. Watak terbentuk tanpa dipengaruhi faktor eksternal atau faktor dari luar. Jadi, seseorang bergaul dengan orang baik tidak lantas wataknya menjadi baik. 

Sebaliknya, sifat terbentuk oleh pengaruh faktor eksternal dari lingkungan sekitar. Saat seseorang dekat dengan orang baik maka sifatnya ikut baik, dan terbentuk seiring berjalannya waktu. 

3. Proses Perubahan 

Perbedaan terakhir adalah pada proses perubahan, dimana watak digambarkan sebagai perilaku saklek atau tetap. Tidak dapat diubah dan tidak dapat digantikan dengan watak yang lainnya. 

Sementara sifat, cenderung fleksibel sehingga mudah berubah bahkan bisa sampai beberapa kali sepanjang usia seseorang. Meskipun membutuhkan waktu, namun sifat seseorang bisa berubah sesuai lingkungan tempatnya berada. 

Contoh Watak

Watak kemudian bisa terlihat dari berbagai perilaku khas yang dimiliki setiap individu. Berikut adalah beberapa contoh watak yang tentu sangat familiar bagi siapa saja: 

1. Pendiam 

Contoh watak yang pertama adalah pendiam, dimana seseorang cenderung lebih banyak diam, tenang, dan tidak menunjukan perilaku yang aneh-aneh. 

2. Pemarah

Pernah bertemu dengan orang yang pemarah? Meskipun sudah kenal 10 tahun pun tidak pernah absen marah? Artinya orang tersebut memiliki watak pemarah. 

3. Penyabar 

Ada kalanya orang dianjugrasi watak penyabar, sehingga menghadapi kesulitan apapun dijamin selalu sabar dan selalu berpikir positif. 

4. Bijaksana 

Bijaksana juga termasuk contoh watak yang tidak dimiliki oleh semua orang di dunia. Orang yang wataknya bijaksana sangat cocok dijadikan pemimpin agar bisa berlaku adil. 

5. Pendendam 

Pernah bertemu dengan orang yang suka memendam dendam? Maka wataknya adalah pendendam dan tidak pernah berubah sampai kapanpun. 

Masih banyak lagi contoh watak yang umum dan ada di sekitar kita. Watak sendiri sifatnya khas, sehingga antara satu orang dengan orang lain tidak bisa disamakan. Lewat pengertian watak yang dipaparkan, kini bisa memahami bagaimana watak ini terbentuk dan bagaimana membangunnya dalam sebuah cerita.

Itulah penjelasan tentang perbedaan sikap, sifat, watak dan karakter. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sifat merupakan sesuatu yang dimiliki seseorang sejak lahir. Sementara karakter dimiliki seseorang dengan sebab adanya faktor lingkungan dan pembelajaran dari luar.

Apakah Perilaku Dipengaruhi Genetik?

Teori yang pernah ada menyatakan bahwa masing-masing DNA yang terdapat di dalam gen manusia akan mempengaruhi kerja sel. Proses kimiawi pada DNA ini akan menghasilkan surat perintah yang berbeda-beda pada masing-masing sel. Ketika sel tersebut melakukan perintah yang telah dibuatkan maka hal ini kemudian secara tidak langsung mempengaruhi tindakan dan perilaku seseorang.

Tetapi, teori ini masih menjadi perdebatan karena perilaku yang muncul tidak lepas dari lingkungan. Dari teori ini muncul pernyataan bahwa dua orang individu yang mungkin memiliki persamaan genetik – seperti saudara kembar identik yang memiliki kesamaan gen sekitar 99% – mempunyai perilaku yang berbeda karena hidup di lingkungan yang berbeda dan dua orang individu yang tidak ada kemiripan genetik, tinggal di lingkungan yang sama setiap hari juga mempunyai perilaku berbeda

Penelitian Tentang Pengaruh Genetik Terhadap Perilaku Manusia

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk menjawab hal tersebut. Tetapi tetap saja belum ada jawaban yang pasti sampai sekarang. Hal ini terjadi karena sangat susah untuk mengetahui seberapa besar gen dan lingkungan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku, mengambil keputusan, atau melakukan kebiasaannya. Penelitian-penelitian tersebut bahkan telah dilakukan pada berbagai objek, seperti anak kembar identik dan fratenal, bahkan pada kelompok orang yang memiliki sindrom mental.

Sebuah riset lain juga telah dilakukan dan melibatkan penderita sindrom Williams. Sindrom ini cukup langka dan menyebabkan penderitanya mengalami berbagai kekurangan, yaitu gangguan belajar sesuatu, mempunyai kepribadian yang unik, kemampuan intelektual juga rendah.

Tidak hanya masalah pada kemampuan psikis saja, sindrom Williams ini menyebabkan penderitanya mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah. Kemudian para peneliti dalam penelitian tersebut mengukur kemampuan otak responden mereka dengan melakukan berbagai tes, seperti tes kemampuan bahasa dan kemampuan mengingat.

Peneliti mencoba untuk mengerti dan menemukan hubungan antara gen dan perilaku dengan melihat perilaku pada penderita sindrom Williams. Lalu, mereka berhasil menemukan adanya perbedaan sistem kerja otak pada penderita Williams dibandingkan dengan orang yang normal. Hal ini menyatakan bahwa memang genetik bisa berpengaruh pada perilaku dan kehidupan sosial seseorang.

Namun hal mengejutkan muncul dari hasil penelitian tersebut, yaitu diketahui bahwa otak pada penderita sindrom Williams kembali bekerja dengan normal setelah mereka beranjak dewasa. Dan peneliti pun menyatakan bahwa terdapat pengaruh lingkungan pada penderita sindrom Williams.

Lingkungan Tidak Kalah Penting Dalam Menentukan Perilaku

Penelitian lain malah menyatakan bahwa perilaku antisosial seseorang telah ada di dalam gen orang tersebut, hal ini berarti menyatakan bahwa antisosial adalah bawaan dari lahir.

Penelitian yang dilakukan pada 1300 anak remaja yang berumur 17 hingga 18 tahun di Swedia ini menemukan bahwa pada anak yang cenderung anti dengan kehidupan sosial, pasif, serta menarik diri dari lingkungan memiliki lebih banyak monoamine oxidase A (MAOA), yaitu sejenis zat perantara yang ada di sistem saraf yang berfungsi untuk mengantarkan sinyal antar sel saraf.

Dari penelitian ini juga ditemukan bahwa remaja yang memiliki MAOA tinggi tersebut mempunyai pengalaman kekerasan di masa kecilnya. Maka dapat disimpulkan bahwa genetik memang mempengaruhi perilaku seseorang tapi hal itu tidak terlepas dari lingkungan serta pengalaman yang pernah dialaminya

Kepribadian Manusia Terbentuk Sejak di Dalam Kandungan

Kepribadian manusia adalah bawaan sejak lahir. Setiap manusia dilahirkan dengan masing-masing kepribadian yang berbeda dan unik”.
(“The color code”, Taylor Hartman)

Sejak terjadinya pembuahan antara spermatozoa dan ovum (sel telur), maka dimulailah rangkaian unik nan rumit untuk penyatuan dua sifat yang masing-masing dibawa dan dikode oleh kromosom asal dari bapak dan ibu.

Rangkaian penggabungan ini akhirnya akan membentuk organ-organ yang vital maupun organ penunjang secara fisik, yang pada akhirnya akan lengkap menjadi suatu kesatuan tubuh manusia sesuai dengan fungsi dan peranannya.

Ternyata selain terjadinya pembentukan dan pertumbuhan secara fisik, bayi dalam kandungan juga mengalami pembentukan dan pertumbuhan kepribadiannya. Banyak silang pendapat para ahli tentang apakah kepribadian yang terbentuk di dalam kandungan tersebut telah lengkap atau belum.

Yang mengatakan belum, berpendapat bahwa nanti setelah lahir dan dewasalah baru kepribadian tersebut mulai terbentuk. Namun sebagian berpendapat sebaliknya, mereka percaya bahwa sejak lahir telah lengkaplah kepribadian dalam diri anak tersebut dan perjalanan hidupnya hingga dewasa hanyalah berupa “sejarah atau kronologi kepribadian” menuju kematangan.

Berdasarkan pada beberapa penelitian terhadap ibu yang pernah mengandung lebih dari satu anak, didapatkan gambaran yang berbeda antara saat mengandung anak yang satu dengan yang lainnya.

Kesaksian dari para ibu menguatkan pendapat, bahwa memang benar sejak dari dalam kandungan masing-masing anak telah menunjukkan perilaku dan respon yang berbeda, baik terhadap aktifitas ibu maupun gejolak perasaan ibu.

Perbedaan aktifitas bayi dalam kandungan tersebut sangatlah berkesan bagi para ibu. Kemudian ternyata terbukti, bahwa perbedaan itu akan berlangsung sampai anak tersebut besar dan dewasa.

Kepribadian adalah kode perilaku, kepribadian juga adalah inti pikiran dan perasaan di dalam diri yang selalu memberitahukan kita, bagaimana cara kita membawa diri. Itu adalah daftar respon yang berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan yang dipegang kuat.

Hal itu akan mengarahkan reaksi emosional kita sekaligus reaksi rasional pada setiap pengalaman hidup. Bahkan juga akan menentukan jenis reaksi mana (emosional atau rasionalkah) yang kemungkinan Anda miliki dalam sebuah situasi. Kepribadian adalah proses aktif dalam setiap hati dan pikiran seseorang yang menentukan bagaimana ia merasa, berpikir, dan berprilaku.

Kenyataan serta bukti-bukti eksperimen psikologis pada bayi-bayi yang baru lahir hingga beberapa hari setelahnya, menunjukkan bahwa emosi juga merupakan suatu bawaan.

Seperti diungkapkan oleh Atkinson & Aitkinson, bahwa sejak kelahiran, seseorang telah membawa tiga emosi dasar, yaitu: perasaan takut, marah dan senang.

Meskipun juga muncul pendapat yang berbeda tentang hal ini, dari seorang tokoh psikologi perkembangan, Elizabeth Hurlock, namun dia juga membenarkan tentang adanya perkembangan emosi yang tampak nyata pada bayi yang baru dilahirkan

Ada sebuah kisah menarik, dan silakan Anda untuk memilih percaya atau tidak. Cerita ini akan mendukung penelitian-penelitian yang sudah ada (sumber: Anthony Dio Martin).

Kasus ini diceritakan oleh seorang ibu setengah baya yang memiliki seorang anak perempuan yang duduk di bangku kelas 2 SMA. Sejak kecil si anak ini susah diatur, susah diajak bicara baik-baik.

Karena kesulitan menghadapi anaknya ini si ibu akhirnya mendatangi seorang psikolog untuk berkonsultasi. Secara kebetulan psikolog ini juga memiliki kemampuan analisa yang kuat dan dalam.

Di bagian akhir konsultasinya psikolog tersebut menjelaskan dengan tepat suatu peristiwa yang pernah dialami ibu tersebut, yang belum sempat ibu itu ungkapkan. Penjelasan psikolog ini tentu saja mengagetkannya, karena kejadian yang terkait dengan anak perempuannya itu memang betul-betul pernah terjadi.

Si psikolog dapat menduga bahwa dulunya si anak adalah bayi yang tidak diharapkan (unwanted child). Akhirnya, keluar juga pengakuan dari ibu tersebut bahwa saat mengandung anak perempuannya itu, dirinya memang belum siap mental maupun ekonomi.

Berkali-kali ibu tersebut mencoba menggugurkan kandungannya. Namun tak berhasil. Begitu jengkelnya, hingga ibu tersebut sering mengatai “anak celaka”, “anak sialan”, dan lain-lain. Tindakan yang dilakukan oleh ibu tersebut, menurut si psikolog, tanpa sadar telah didengar dan dirasakan oleh si jabang bayi, sehingga membangun perasaan marah pada bayi yang dikandungnya.

Secara tidak sadar bayi itu seolah berkata dalam kandungannya, “Sekarang saya lemah dan tak berdaya dalam kandungan, dan ibu bisa memperlakukan saya seenaknya. Tapi awas, kalau saya sudah besar nanti, saya akan membalas pada ibu!”. Hal itu terbukti di kemudian hari.

Dalam dunia psikologi perilaku, terdapat dua kubu yang berbeda pandangan. Kubu pertama adalah mereka yang lebih menekankan pada faktor gen dan karakteristik dasar (yang ada sejak lahir).

Teori ini biasa disebut nativist atau nature. Kubu nature dimotori oleh Edward L. Thorndike (1903) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia, faktor yang menentukan adalah hereditas/ keturunan. Kubu kedua, dicetuskan oleh John B. Watson pada tahun 1925.

Kubu kedua ini terkenal dengan ungkapan bahwa pengalaman mampu menuliskan segala pesan pada tabula rasa, berupa lembaran putih bersih sifat dasar manusia. Para pendukung teori ini menekankan empiricist (menitik beratkan pada proses belajar dan pengalaman) atau biasa disebut nurture.

Sejak adanya pernyataan dan kesepakatan pendapat, bahwa perdebatan tentang nature dan nurture telah selesai (Turkheimer, 2000), hampir semua psikolog dewasa ini akhirnya sependapat bahwa kedua sifat tersebut, yaitu sifat pembawaan (aangeboren) dan peran lingkungan (experience) akan selalu saling berinteraksi satu sama lainnya.

Sehingga, hasilnya akan menentukan ciri-ciri fisik, sekaligus juga akan menghasilkan sifat-sifat psikologis. Interaksi tersebut selalu bekerja dalam dua arah. Berdasarkan uraian singkat diatas, setidaknya kita mempunyai pilihan dan harapan.

Pilihannya adalah bagaimana kita akan semakin memperhatikan pendidikan anak sejak dalam kandungan, dengan cara menanamkan dalam diri ibu sikap dan perasaan yang positif dan membangun. Karena ternyata sejak dalam kandungan, kita manusia sudah mulai membentuk kepribadian kita.

Harapan kita tentunya sesuatu yang baik, dengan mulai mempraktekkan cara berpikir dan bersikap yang positif, bagi para ibu yang sedang mengandung bayinya, maka kelak dihari depan bangsa Indonesia dapat menciptakan pribadi-pribadi selain sehat juga berpikiran maju dan kreatif, serta berkepribadian baik.

About US

JasindoPT.com Menghadirkan Solusi Terpadu dan Profesional untuk pengurusan perizinan dan legalitas usaha. Dengan layanan satu pintu yang efisien, kami berkomitmen mendukung kelancaran dan keberhasilan bisnis Anda.

💡 Visi & Misi Jasindoptcom

VISI JASINDOPTCOM

“Menjadi mitra terpercaya dalam mewujudkan legalitas usaha yang profesional, cepat, dan taat hukum untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berintegritas di Indonesia.”

MISI JASINDOPT.COM

1. Memberikan layanan pengurusan legalitas dan perizinan usaha yang cepat, mudah, dan terpercaya.

2. Mendampingi pelaku usaha, khususnya UMKM, dalam membangun bisnis yang sah secara hukum dan berkelanjutan.

3. Mengedepankan integritas, profesionalisme, dan pelayanan ramah dalam setiap proses pengurusan dokumen.

4. Memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses dan transparansi layanan.

5. Meningkatkan kesadaran hukum di kalangan pengusaha melalui edukasi dan pendampingan legal.

6. Berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional dengan memperluas akses legalitas bagi para pelaku usaha.