Perizinan Usaha Catering & Kode KBLI

Jasindopt.com – Usaha catering adalah salah satu kegiatan usaha yang tampaknya masih memiliki lahan hijau cukup luas. Dengan adanya gaya hidup serba praktis dan instan saat ini, sebagian besar masyarakat memilih memesan catering sebagai hidangan makanan dan minuman dalam acara yang dihelatnya ketimbang harus repot menyiapkannya sendiri.

Tidak hanya acara besar seperti pernikahan, banyak orang lebih memilih menggunakan jasa catering untuk menyediakan makanan dan minuman dalam berbagai acara seperti arisan keluarga, reuni sekolah, atau bahkan rapat divisi.

Kepraktisan ini dinilai menghemat cukup banyak waktu dan tenaga, ketimbang harus merepotkan diri terjun sendiri menyiapkan hidangan. Kelebihan waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan lainnya.

Usaha catering sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dengan restoran. Walaupun sama-sama bergerak di bidang kuliner, dan menyediakan makanan dan minuman untuk orang banyak, namun jasa catering lebih terfokus pada pengolahan, penyajian dan pengiriman makanan.

Pihak catering juga biasanya membantu menata dan juga menghidangkan makanan, sehingga pengguna jasa tidak perlu merasa direpotkan lagi. Selain itu, dalam bisnis katering antara dapur dan juga tempat makan berbeda.

Restoran menggunakan gedung yang sama antara dapur dan juga tempat makan, sedangkan catering tidak. Karena perbedaan karakteristik ini pula proses perizinan catering dan restoran bisa berbeda.

Seperti apa bisnis usaha catering? Artikel ini akan membantu membahas persyaratan apa saja yang harus dimiliki untuk membuat usaha catering dan jenis izin usaha apa yang perlu diurus.

Perizinan Yang Diperlukan Dalam Usaha Catering

Berikut perizinan yang diperlukan Sahabat Wirausaha yang ingin membuka bisnis katering baik cluster Jasa Boga untuk Suatu Event Tertentu (Event Catering) (KBLI 56210) maupun Penyedia Jasa Boga Periode Tertentu (KBLI 56290).

1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

NPWP menjadi syarat wajib yang harus dimiliki oleh pelaku usaha. Dokumen ini berfungsi sebagai kunci untuk mengurus perizinan lain yang dibutuhkan. Sahabat Wirausaha belum memiliki NPWP? Tenang saja. Sahabat Wirausaha dapat mengurus dokumen ini secara mudah hanya dengan mengunjungi laman https://ereg.pajak.go.id/daftar dan mengikuti langkah-langkah pendaftaran yang tersedia.

2. Nomor Induk Berusaha (NIB)

NIB bisa diibaratkan sebagai Kartu Tanda Anggota (KTA) yang menunjukkan identitas pelaku usaha. Setiap pelaku usaha wajib punya NIB. Untuk memperoleh NIB, caranya sangat mudah, Sahabat Wirausaha hanya perlu mendaftarkan diri pada sistem Online Single Submission (OSS).

Sebagai identitas pelaku usaha, NIB dapat menggantikan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Angka Pengenal Impor (API), dan Tanda Daftar Industri (TDI). Adapun langkah-langkah untuk mendapatkan NIB dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Membuat Akun OSS untuk Mendapatkan Hak Akses

Untuk bisa mengakses sistem OSS, Sahabat Wirausaha harus memiliki akun terlebih dahulu. Caranya sebagai berikut.

  • Masuk ke laman https://oss.go.id.
  • Pilih DAFTAR.
  • Pilih Skala Usaha (UMK).
  • Pilih Jenis Pelaku Usaha UMK.
  • Lengkapi Formulir Pendaftaran.
  • Cek email dan klik tombol Aktivasi.
  • Cek email untuk mengetahui username dan password.

Jika telah menerima email dari sistem OSS, artinya pendaftaran berhasil, dan Sahabat Wirausaha memiliki hak akses ke sistem tersebut. Sahabat Wirausaha dapat mengikuti panduan mendapatkan hak akses secara lengkap di Panduan Membuat Akun di OSS Bagi Usaha Mikro dan Kecil.

  • Mengisi Formulir Pendaftaran

Sekarang, Sahabat Wirausaha bisa memulai registrasi NIB dengan menerapkan langkah-langkah berikut.

  • Buka situs website https://oss.go.id/.
  • Pilih MASUK.
  • Masukkan username dan password, beserta captcha yang tertera, lalu klik tombol MASUK.
  • Klik Menu Perizinan Berusaha dan pilih Permohonan Baru.
  • Lengkapi Data Pelaku Usaha.
  • Lengkapi Data Bidang Usaha.
  • Lengkapi Data Detail Bidang Usaha.
  • Lengkapi Data Produk/Jasa Bidang Usaha.
  • Periksa Daftar Produk/Jasa.
  • Periksa Data Usaha.
  • Periksa Daftar Kegiatan Usaha.
  • Periksa dan Lengkapi Dokumen Persetujuan Lingkungan (KBLI/Bidang Usaha Tertentu).
  • Pahami dan Centang Pernyataan Mandiri.
  • Periksa Draf Perizinan Berusaha.
  • Terbitkan Nomor Induk Berusaha.

Panduan mengisi formulir NIB dapat Sahabat Wirausaha lihat pada link Cara Mendapatkan Nomor Induk Berusaha di OSS RBA.

3. Sertifikasi Standar Usaha

Bisnis katering baik untuk event tertentu maupun periode tertentu tergolong sebagai bisnis dengan risiko menengah tinggi. Artinya, perizinan yang diperlukan untuk menjalankan bisnis ini tidak hanya sekadar NIB saja, tetapi harus dilengkapi dengan sertifikasi standar usaha dari pemerintah setempat. Dokumen pengajuan sertifikasi ini diunggah melalui sistem OSS melalui langkah-langkah berikut.

  • Buka menu Permohonan > Pemenuhan Persyaratan.
  • Klik tombol Proses Pemenuhan Standar Usaha/Persyaratan.
  • Lengkapi Dokumen Pemenuhan.
  • Proses verifikasi dan persetujuan pemenuhan standar usaha/persyaratan mulai berlangsung.
  • Sertifikasi standar usaha terbit.

4. Sertifikasi Laik Sehat

Untuk menjalankan bisnis katering, jaminan kebersihan dan sanitasi menjadi syarat utama yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku bisnis. Sebab itu, sertifikasi laik sehat sebagai representasi dari jaminan sanitasi dan kehigienisan produk makanan harus pula dikantongi. Sahabat Wirausaha bisa memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga (SLHSJ) dengan mengajukan permohonan ke Dinas Kesehatan setempat.

Kelengkapan dokumen dan persyaratan untuk mengajukan permohonan dokumen sertifikasi ini dapat ditemukan di Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi Jasaboga (SLHSJ).

Bisnis katering untuk cluster jasa boga untuk suatu event tertentu (event catering) hanya bisa dilakukan dalam skala kecil, menengah, dan besar. Sementara untuk cluster penyedia jasa boga untuk periode tertentu bisa dalam skala mikro, kecil, menengah, dan besar. Namun, apapun skala usahanya, perizinan yang diperlukan tetap sama.

Pentingnya perizinan usaha tidak hanya sekadar untuk menjamin keabsahan dan keamanan bisnis semata, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Tak hanya itu, perizinan yang lengkap memungkinkan Sahabat Wirausaha untuk mengikuti tender guna mendapatkan proyek secara kontinu, sehingga bisnis katering bisa berjalan secara berkesinambungan. Kelangsungan bisnis tentu akan berpengaruh pada kelangsungan peroleh penghasilan

Perizinan tetap menjadi hal yang penting untuk diurus walaupun usaha catering tergolong bisnis skala kecil. Perizinan yang lengkap bermanfaat untuk menghindari hal-hal yang mungkin berisiko merugikan bisnis di kemudian hari.

Selain itu, dengan adanya perizinan yang lengkap juga mempermudah persaingan dalam berebut tender. Karena umumnya saat ada orderan acara yang cukup penting, perizinan menjadi salah satu persyaratannya.

Dengan izin yang lengkap, pelaku usaha catering juga memiliki kemudahan dalam mengajukan pinjaman dana ke bank saat membutuhkan tambahan modal. Dan apabila pelaku usaha catering ingin memasarkan produk secara lebih luas, maka tidak akan ada masalah yang timbul ke depannya.

Bisnis catering digolongkan dalam jenis bisnis pariwisata dengan izin usaha berupa Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP). Untuk mendapatkan TDUP, pelaku usaha catering bisa mengurusnya melalui Online Single Submission (OSS) dengan jenis izin badan hukum maupun badan usaha.

Dalam perizinan sektor bisnis catering, persyaratan utama dari sebuah usaha catering harus memiliki sertifikat perizinan, di mana perizinannya masih harus dilakukan secara manual.

Caranya adalah dengan mengurus izin ke beberapa tempat agar bisa mendapatkan sertifikat seperti sertifikat penjamah makanan (koki) dan sertifikat laik sehat.

Klasifikasi Golongan Usaha Catering

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096/Menkes/PER/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga (“Permenkes 1096/Menkes/PER/VI/2011”), usaha catering diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu sebagai berikut: 

Usaha Catering Golongan A 

Yang dimaksud usaha catering golongan A adalah usaha catering yang lingkup layanannya melayani kebutuhan masyarakat umum. Adapun catering golongan A dibedakan lagi menjadi tiga golongan, yakni: 

  • Golongan A1 – usaha catering yang melayani kebutuhan masyarakat umum dengan pengolahan makanan yang menggunakan dapur rumah tangga dan dikelola oleh keluarga sendiri 
  • Golongan A2 – usaha catering yang melayani kebutuhan masyarakat umum dengan pengolahan yang menggunakan dapur rumah tangga dan dibantu tenaga kerja karyawan 
  • Golongan A3 – usaha catering yang melayani kebutuhan masyarakat umum yang menggunakan dapur khusus dan terpisah dari dapur rumah tangga, serta dibantu tenaga kerja karyawan 

Usaha Catering Golongan B 

Usaha catering golongan B seringkali disebut juga dengan istilah corporate catering. Biasanya corporate catering menggunakan dapur khusus dan mempekerjakan tenaga kerja karyawan untuk memenuhi beberapa kebutuhan makanan yang melayani kebutuhan khusus seperti: 

  • Asrama haji 
  • Asrama transit
  • Asrama lainnya 
  • Industri 
  • Pabrik 
  • Pengeboran lepas pantai 
  • Angkutan umum dalam negeri selain pesawat udara
  • Fasilitas pelayanan kesehatan 

Usaha Catering Golongan C 

Usaha catering golongan C adalah usaha catering yang menggunakan dapur khusus dan mempekerjakan tenaga kerja karyawan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam alat angkut umum internasional dan pesawat udara.

Itulah pengklasifikasian jenis usaha catering yang ada saat ini. Untuk usaha catering golongan A, masih banyak yang belum memiliki bentuk badan usaha yang jelas karena skala bisnis yang masih kecil.

Namun bila Anda ingin melebarkan sayap menjadi usaha catering golongan B atau C, maka bentuk badan usaha serta legalitas usaha sangatlah dibutuhkan sebagai pemenuhan persyaratan yang diajukan calon rekanan. 

Untuk itu, selain mengurus perizinan, Anda juga perlu menentukan bentuk badan usaha catering yang sesuai dengan usaha Anda saat ini, dan sebaiknya disesuaikan pula dengan arah pengembangan bisnis Anda.

Apabila Anda ingin melebarkan sayap menjadi usaha catering golongan B atau C, maka Anda mungkin perlu mendirikan CV atau PT. Usaha catering dengan bentuk badan usaha PT telah berbadan hukum sehingga membuka peluang yang lebih luas untuk mengikuti tender di kementerian atau perusahaan berskala besar.

Persyaratan Teknis Usaha Catering 

Untuk melancarkan semua pengajuan perizinan usaha catering, Anda juga perlu memenuhi persyaratan teknis seperti persyaratan bangunan, fasilitas sanitasi, peralatan, ketenagaan dan bahan makanan yang akan melewati pemeriksaan terlebih dahulu/ Adapun detail persyaratan bangunan, fasilitas sanitasi, peralatan, ketenagaan dan bahan makanan dijabarkan dalam Lampiran Permenkes 1096/Menkes/PER/VI/2011 sebagai berikut: 

Golongan A1

  1. Ruangan pengolahan makanan tidak boleh dipakai sebagai ruang tidur
  2. Bangunan tanpa ventilasi alam yang cukup, harus menyediakan ventilasi buatan    Pembuangan udara kotor/asap tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
  3. Tersedia tempat cuci tangan dan tempat cuci peralatan yang terpisah dengan permukaan halus dan mudah dibersihkan
  4. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan jadi yang cepat membusuk

Golongan A2

  1. Ruangan pengolahan makanan tidak boleh dipakai sebagai ruang tidur
  2. Bangunan tanpa ventilasi alam yang cukup, harus menyediakan ventilasi buatan    Pembuangan udara kotor/asap tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
  3. Tersedia tempat cuci tangan dan tempat cuci peralatan yang terpisah dengan permukaan halus dan mudah dibersihkan
  4. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan jadi yang cepat membusuk
  5. Ruangan pengolahan makanan harus dipisahkan dengan dinding pemisah dari ruang lain2. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat pembuangan asap sehingga tidak mengotori ruangan
  6. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan yang cepat membusuk
  7. Tersedia ruang penyimpanan dan ganti pakaian dengan luas cukup serta berada di tempat yang dapat mencegah kontaminasi terhadap makanan

Golongan A3

  1. Ruangan pengolahan makanan tidak boleh dipakai sebagai ruang tidur
  2. Bangunan tanpa ventilasi alam yang cukup, harus menyediakan ventilasi buatan    Pembuangan udara kotor/asap tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
  3. Tersedia tempat cuci tangan dan tempat cuci peralatan yang terpisah dengan permukaan halus dan mudah dibersihkan
  4. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan jadi yang cepat membusuk
  5. Ruangan pengolahan makanan harus dipisahkan dengan dinding pemisah dari ruang lain2. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat pembuangan asap sehingga tidak mengotori ruangan
  6. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan yang cepat membusuk
  7. Tersedia ruang penyimpanan dan ganti pakaian dengan luas cukup serta berada di tempat yang dapat mencegah kontaminasi terhadap makanan
  8. Ruangan pengolahan makanan terpisah dari bangunan tempat tinggal.
  9. Pembuangan asap dapur dilengkapi cerobong asap atau alat penangkap asap (smoke hood).
  10. Tempat memasak makanan terpisah dengan tempat penyiapan makanan matang.
  11. Tersedia lemari es yang dapat mencapai suhu -5 celcius dengan kapasitas cukup untuk melayani kegiatan sesuai dengan jenis makanan/bahan makanan yang digunakan.
  12. Tersedia alat angkut atau kendaraan khusus pengangkut makanan dengan konstruksi tertutup dan hanya dipergunakan untuk mengangkut makanan siap saji.
  13. Tempat makanan tertutup sempurna, bahan kedap air, permukaan halus, dan mudah dibersihkan. Pada tiap kotak (box) sekali pakai harus mencantumkan nama perusahaan, Nomor Izin Usaha, dan Nomor Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga. Jika penyajian tidak dengan kotak, harus mencantumkan nama perusahaan, Nomor Izin Usaha, dan Nomor Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga di tempat penyajian yang mudah diketahui umum

Golongan B

  1. Ruangan pengolahan makanan tidak boleh dipakai sebagai ruang tidur
  2. Bangunan tanpa ventilasi alam yang cukup, harus menyediakan ventilasi buatan    Pembuangan udara kotor/asap tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
  3. Tersedia tempat cuci tangan dan tempat cuci peralatan yang terpisah dengan permukaan halus dan mudah dibersihkan
  4. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan jadi yang cepat membusuk
  5. Ruangan pengolahan makanan harus dipisahkan dengan dinding pemisah dari ruang lain2. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat pembuangan asap sehingga tidak mengotori ruangan
  6. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan yang cepat membusuk
  7. Tersedia ruang penyimpanan dan ganti pakaian dengan luas cukup serta berada di tempat yang dapat mencegah kontaminasi terhadap makanan
  8. Ruangan pengolahan makanan terpisah dari bangunan tempat tinggal.
  9. Pembuangan asap dapur dilengkapi cerobong asap atau alat penangkap asap (smoke hood).
  10. Tempat memasak makanan terpisah dengan tempat penyiapan makanan matang.
  11. Tersedia lemari es yang dapat mencapai suhu -5 celcius dengan kapasitas cukup untuk melayani kegiatan sesuai dengan jenis makanan/bahan makanan yang digunakan.
  12. Tersedia alat angkut atau kendaraan khusus pengangkut makanan dengan konstruksi tertutup dan hanya dipergunakan untuk mengangkut makanan siap saji.
  13. Tempat makanan tertutup sempurna, bahan kedap air, permukaan halus, dan mudah dibersihkan. Pada tiap kotak (box) sekali pakai harus mencantumkan nama perusahaan, Nomor Izin Usaha, dan Nomor Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga. Jika penyajian tidak dengan kotak, harus mencantumkan nama perusahaan, Nomor Izin Usaha, dan Nomor Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga di tempat penyajian yang mudah diketahui umum
  14. Pembuangan air kotor dilengkapi penangkap lemak (grease trap) sebelum dialirkan ke bak penampungan air kotor (septic tank) atau tempat pembuangan lain
  15. Antara lantai dan dinding, tidak ada sudut mati dan harus lengkung (conus) agar mudah dibersihkan
  16. Memiliki ruang kantor dan ruang untuk belajar/khusus yang terpisah dari ruang pengolahan makanan
  17. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat penangkap asap (smoke hood), alat pembuang asap, dan cerobong asap
  18. Fasilitas pencucian peralatan dan bahan makanan dari bahan yang kuat, permukaan halus, dan mudah dibersihkan
  19. Tiap peralatan dibebas hamakan minimal 2 menit dengan larutan kaporit 50 ppm atau air panas 80 celcius
  20. Tersedia minimal 1 tempat cuci tangan dengan air mengalir di tiap ruang pengolahan makanan, yang terletak dekat pintu dan dilengkapi sabun
  21. Ruang pengolahan makanan terpisah dari ruang penyimpanan bahan makanan dan tersedia lemari es penyimpan dengan suhu -5 celcius sampai -10 celcius dengan kapasitas memadai sesuai dengan jenis makanan yang digunakan

Golongan C

  1. Ruangan pengolahan makanan tidak boleh dipakai sebagai ruang tidur
  2. Bangunan tanpa ventilasi alam yang cukup, harus menyediakan ventilasi buatan    Pembuangan udara kotor/asap tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
  3. Tersedia tempat cuci tangan dan tempat cuci peralatan yang terpisah dengan permukaan halus dan mudah dibersihkan
  4. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan jadi yang cepat membusuk
  5. Ruangan pengolahan makanan harus dipisahkan dengan dinding pemisah dari ruang lain2. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat pembuangan asap sehingga tidak mengotori ruangan
  6. Tersedia minimal 1 lemari es untuk penyimpanan bahan pangan dan makanan yang cepat membusuk
  7. Tersedia ruang penyimpanan dan ganti pakaian dengan luas cukup serta berada di tempat yang dapat mencegah kontaminasi terhadap makanan
  8. Ruangan pengolahan makanan terpisah dari bangunan tempat tinggal.
  9. Pembuangan asap dapur dilengkapi cerobong asap atau alat penangkap asap (smoke hood).
  10. Tempat memasak makanan terpisah dengan tempat penyiapan makanan matang.
  11. Tersedia lemari es yang dapat mencapai suhu -5 celcius dengan kapasitas cukup untuk melayani kegiatan sesuai dengan jenis makanan/bahan makanan yang digunakan.
  12. Tersedia alat angkut atau kendaraan khusus pengangkut makanan dengan konstruksi tertutup dan hanya dipergunakan untuk mengangkut makanan siap saji.
  13. Tempat makanan tertutup sempurna, bahan kedap air, permukaan halus, dan mudah dibersihkan. Pada tiap kotak (box) sekali pakai harus mencantumkan nama perusahaan, Nomor Izin Usaha, dan Nomor Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga. Jika penyajian tidak dengan kotak, harus mencantumkan nama perusahaan, Nomor Izin Usaha, dan Nomor Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga di tempat penyajian yang mudah diketahui umum
  14. Pembuangan air kotor dilengkapi penangkap lemak (grease trap) sebelum dialirkan ke bak penampungan air kotor (septic tank) atau tempat pembuangan lain
  15. Antara lantai dan dinding, tidak ada sudut mati dan harus lengkung (conus) agar mudah dibersihkan
  16. Memiliki ruang kantor dan ruang untuk belajar/khusus yang terpisah dari ruang pengolahan makanan
  17. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat penangkap asap (smoke hood), alat pembuang asap, dan cerobong asap
  18. Fasilitas pencucian peralatan dan bahan makanan dari bahan yang kuat, permukaan halus, dan mudah dibersihkan
  19. Tiap peralatan dibebas hamakan minimal 2 menit dengan larutan kaporit 50 ppm atau air panas 80 celcius
  20. Tersedia minimal 1 tempat cuci tangan dengan air mengalir di tiap ruang pengolahan makanan, yang terletak dekat pintu dan dilengkapi sabun
  21. Ruang pengolahan makanan terpisah dari ruang penyimpanan bahan makanan dan tersedia lemari es penyimpan dengan suhu -5 celcius sampai -10 celcius dengan kapasitas memadai sesuai dengan jenis makanan yang digunakan
  22. Pembuangan asap dapur dilengkapi alat penangkap asap (smoke hood), alat pembuang asap, cerobong asap, serta saringan lemak yang dapat dibuka pasang untuk pembersihan berkala
  23. Ventilasi ruangan dilengkapi alat pengatur suhu ruangan
  24. Fasilitas pencucian alat dan bahan makanan terbuat dari bahan logam tahan karat dan tidak larut dalam makanan seperti stainless steel
  25. Air untuk pencucian peralatan dan cuci tangan mempunyai kekuatan tekanan sedikitnya 15 psi (1,2kg/cm2)
  26. Di ruang pengolahan makanan tersedia lemari es penyimpanan untuk makanan secara terpisah sesuai jenis bahan makanan yang digunakan seperti daging, telur, unggas, ikan, sayuran, dan buah dengan suhu yang mencapai kebutuhan yang disyaratkan
  27. Tersedia gudang penyimpanan makanan untuk bahan makanan kering, makanan terolah, dan bahan yang tidak mudah membusuk
  28. Rak penyimpan makanan menggunakan roda penggerak sehingga ruangan mudah dibersihkan

Perizinan Lain yang Dibutuhkan Usaha Catering 

Selain semua perizinan yang telah disebutkan, pelaku usaha catering juga perlu melengkapi rekomendasi KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan), terutama bila layanan penyediaan makanan ditujukan di wilayah pelabuhan, bandar udara dan pos pemeriksaan lintas batas. Untuk mendapatkan surat rekomendasi ini, Anda harus mengajukan rekomendasi dari kepala KKP dengan melampirkan Sertifikat Laik Hiegene Sanitasi Jasaboga dan TDUP. 

Khusus untuk usaha catering golongan C yang melayani angkutan internasional, pelaku usaha juga harus memenuhi persyaratan khusus yang ditetapkan oleh standar internasional seperti ISO 9002, sertifikat HCCP dan lain sebagainya. 

Itulah tadi penggolongan jenis usaha catering dan perizinan yang dibutuhkan selama menjalani kegiatan usaha catering. Dengan memilih badan usaha dan penggolongan yang tepat, maka Anda berpeluang menjadi pelaku usaha catering yang sukses.

Rekomendasi:

Pastikan Izin Restoran & Katering tuntas dengan pengalaman jasindopt.com. jasindopt.com siap membantu Anda untuk melakukan izin Restoran & Katering. Yang akan Anda dapatkan dalam dokumen akhir Perizinan Usaha Pariwisata dan Restoran:

  • SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi)
  • SPPL (Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan)
  • Pendampingan Survey

Buat situs web atau blog di WordPress.com

%d blogger menyukai ini: