Edukasi Bisnis Dari Raymond Chin Sebagai CEO Ternak Uang

Jasindopt.com – Raymond Chin merupakan CEO dari Ternak Uang, sebuah platform edukasi literasi finansial yang didirikan bersama kedua partnernya, Timothy Ronald dan Felicia Putri Tjiasaka. Pria kelahiran Yogyakarta, 7 Desember 1994 ini merupakan lulusan Universitas Binus dengan jurusan Ilmu Komputer.

Ternak Uang adalah Perusahaan bidang finance dan investasi yaitu PT Ternak Uang Nusantara yang mana pada dasarnya perusahaan ini menyediakan jasa/layanan berupa platform edukasi tentang investasi, keuangan seperti saham, personal finance dll.

Raymond Chin mengawali karir sebagai freelance programmer, memutuskan untuk menjadi entrepreneur. Selepas lulus dan mendapatkan magna cum laude dari jurusan Computer Science Binus University, Raymond membangun bisnisnya sendiri. Mulai dari digital agency, wellness startup, hingga kini mendirikan sebuah edutech startup bersama kedua rekannya, Ternak Uang.

Raymond Chin, CEO sekaligus Co-Founder Ternak Uang mengatakan, bahwa membangun sebuah bisnis memang tidaklah mudah. Namun, setiap wirausahawan tentu memiliki bekal tersendiri untuk dapat menjawab setiap tantangan tersebut dalam menjalankan roda bisnisnya. Banyak hal yang dapat dijadikan solusi, termasuk memanfaatkan teknologi untuk membantu pertumbuhan bisnis.

Sosok Raymond Chin dan Perjalanan Kariernya

Dari seluruh perjalanan bisnisnyanya hingga menjabat sebagai CEO dari Ternak Uang. Melansir dari Linkedin, Raymond merupakan lulusan dari Ilmu Komputer Universitas Binus pada tahun 2016. Diketahui, bahwa awal karir Raymond Chin bermula dari kanal Youtube yang dibuatnya pada 23 Januari 2014.

Berkat ketertarikannya dalam dalam bidang finansial, membuat Raymond secara konsisten memproduksi konten soal tips untuk menabung dan cara investasi baik jangka panjang maupun jangka pendek, serta pilihan platform yang digunakan untuk berinvestasi dengan mudah dan aman.

Selain mengawali karier sebagai Youtuber, ternyata dia juga merintis bisnis pertamanya di sektor kebugaran, yakni Wellnez di tahun 2018.

Lalu, satu tahun setelahnya, di mana ketika startup Wellnez diakuisisi oleh The FIT Company, membuat dirinya pun menjabat sebagai Vice President Product and Growth The FIT Company pada Mei 2019 hingga Juli 2020. Berdasarkan, keterangan proses akuisisi ini bertujuan mengembangkan ekosistem wellness yang tengah dirintis.

Selama satu tahun berkarier di industri kebugaran. Akhirnya, pada tahun 2016 Raymond pun merintis perusahaan baru bernama Maven yang beroperasi hingga saat ini. Maven sendiri merupakan bisnis agency yang telah mempunyai cabang penjualan Singapura dengan tim Internasional sebanyak 30 lebih karyawan. Bahkan, perusahaannya mengklaim telah memiliki nilai valuasi mencapai US$1 juta atau setara dengan Rp15 miliar.

Kemudian, sejak 2021 sampai saat ini, Raymond tergabung sebagai Commissioner dari URRO Films, agency yang memproduksi video dan telah menangani banyak perusahaan besar nasional.

Pada tahun 2020, dia kembali memutuskan untuk membangun sebuah platform edukasi literasi finansial dan saham yaitu Ternak Uang, bersama partner-nya Timothy Ronald dan Felicia Putri Tjiasaka.

Bahkan, tak hanya Youtube yang telah ditekuninya sejak lama. Raymond turut mencoba platform TikTok dan memproduksi konten yang juga membahas soal finansial. Adapun, followers TikTok-nya telah mencapai 716.5000 dengan total likes 15.9 juta.

Kini, Raymond pun ditunjuk oleh perusahaan pengembang game asal Bandung, Agate, sebagai Strategic Advisor di perusahaannya untuk mengakselerasi pertumbuhan industri game dan bersaing hingga ke pasar Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika

Melalui akun youtube pribadinya, dia melakukan edukasi bisnis sekaligus berbagi tips tentang bagaimana memanfaatkan teknologi untuk dapat mengakselerasi sebuah bisnis.

1. Pentingnya Memanfaatkan Teknologi Untuk Operasional Bisnis

Menurut Raymond, salah satu kesalahan umum entrepreneur pemula, banyak yang terlalu terfokus untuk melahirkan inovasi teknologi yang kompleks dan canggih tanpa menyadari ada atau tidaknya kebutuhan ini dalam bisnis yang dijalankan.

Oleh karena itu, Raymond menyarankan untuk memanfaatkan teknologi yang sudah ada dan diciptakan sebelumnya. Khususnya bagi para pengusaha pemula yang masih menghemat dana operasional, gunakan fitur-fitur teknologi dalam kegiatan operasional bisnis. “Media sosial dan marketplace menjadi aspek teknologi yang sudah lazim digunakan untuk kegiatan marketing,” katanya.

2. Pentingnya Integrasi Teknologi Dalam Kualitas Pelayanan dan Produk Kepada Pengguna

Sejatinya, kecanggihan teknologi juga dapat digunakan untuk memajukan bisnis dibanding para pemain lain. “Tapi tentu saja, kita sudah harus paham dengan perkembangan yang terjadi di pasar sekarang, termasuk kesiapan pasar (market maturity) dan kemajuan kompetitor,” ia mengingatkan.

Raymond mencontohkan, jika bisnis yang dipilih adalah bisnis kelas online, maka bisa melakukan diferensiasi dengan mengintegrasikannya dengan berbagai teknologi lain. Misalnya, bisa menggunakan aplikasi chat for business untuk akuisisi dan layanan pelanggan, mengalihkannya ke sistem online ticketing untuk melakukan pembelian tiket kelas, dan mengadakan kelas dalam format terbatas di sebuah aplikasi video conference.

Integrasi seperti ini tidak hanya akan memudahkan dari segi biaya, operasional, dan tenaga kerja, namun juga membangun sebuah user experience yang nyaman bagi pengguna. Dengan teknologi, para pengguna juga dimudahkan karena tidak harus mempelajari ulang teknologi/produk baru yang belum tentu familiar bagi mereka.

3. Menciptakan Teknologi Baru Sebagai Inovasi Layanan

Dalam tahap ini, menurutnya, teknologi tidak lagi digunakan sebagai elemen pelengkap dalam operasional maupun layanan bisnis. Namun, teknologi sudah menjadi bagian fundamental dari bisnis tersebut. Contohnya, seperti jenis bisnis yang tidak bisa jalan tanpa adanya aplikasi sendiri, tanpa website, ataupun tanpa marketplace milik sendiri.

Jenis bisnis ini membutuhkan biaya dan waktu pengerjaan yang tentunya diperhitungkan besar. Bisnis seperti ini juga membutuhkan tenaga pengembang yang dijadikan sebagai tumpuan untuk inovasi teknologi yang dihadirkan tersebut. Tentu saja tidak semua wirausahawan bisa sampai di tahap ini. Hal ini juga bukanlah sebuah keharusan yang perlu dilakukan oleh setiap pemilik usaha,” pungkasnya.

%d blogger menyukai ini: