






















Kopi Toba dikenal sebagai salah satu jenis minuman kopi yang memiliki karakter unik.
Umumnya, masyarakat mengenal kopi dengan cita rasa yang pahit dan bisa dipadukan dengan bahan lainnya seperti susu.
Namun, bagi mereka yang mengenal kopi begitu mengerti banyaknya jenis dan cita rasa kopi.
Cita rasa Kopi Toba yang dihasilkan dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:
- Ketinggian (Altitude)
- Suhu
- Curah Hujan
- Tanah
- Proses pasca panen
Tidak jarang kami mendengar pertanyaan beberapa hal yang dapat mempengaruhi rasa kopi, salah satunya tentang ketinggian tanaman kopi.
Ketinggian tanaman biji kopi hingga saat ini memiliki ketertarikan bagi penikmat kopi. Hal tersebut menjadi salah satu alasan seseorang memilih kualitas biji kopi.
Tidak heran jika pada setiap kemasan biji kopi yang dijual selalu dicantumkan ketinggian tanaman dan catatan rasa kopi tersebut.
Membeli Kopi langsung dari Petani adalah cara terbaik untuk menentukan keaslian kopi dan cita rasa terbaik.
Sebab tempat dimana Kopi ditanam menentukan rasa dan kualitas terbaik.
Ketinggian
Faktor untuk mendapatkan kopi terbaik adalah ketinggian, suhu yang tepat dan curah hujan.
Desa Lumban Rau terletak di wilayah Kabupaten Toba, yang dikenal sebagai dataran tinggi dengan ketinggian antara 900 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata 19-22 derajat Celcius.
Salah satu faktor Kopi Toba dari Lumban Rau Habinsaran menjadi kopi terbaik dengan cita rasa yang tinggi karena tempatnya cocok untuk pertanian kopi.
Wilayah Kecamatan Habinsaran, termasuk Parsoburan Tengah, merupakan bagian dari dataran tinggi Kabupaten Toba.
Kecamatan Habinsaran berada pada 2°06’- 2°22’ Lintang Utara dan 98°35’ – 99°10’ Bujur Timur.
Ketinggian wilayah Kecamatan Habinsaran berada di antara 700 hingga 1.650 meter di atas permukaan laut.
Ketinggian terbaik untuk tanaman kopi sangat dipengaruhi oleh jenis kopi, di mana kopi Arabika umumnya tumbuh baik di ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara kopi Robusta lebih suka daerah dengan ketinggian 100-1.000 mdpl.
Kopi Arabika:
- Ketinggian ideal: 1.000-2.000 mdpl.
- Suhu ideal: 14-24 derajat Celcius.
- Karakter rasa: Biasanya memiliki cita rasa yang lebih halus, asam, dan aroma yang lebih kompleks.
Kopi Robusta:
- Ketinggian ideal: 100-1.000 mdpl.
- Suhu ideal: 21-24 derajat Celcius.
- Karakter rasa: Biasanya memiliki rasa yang lebih kuat, pahit, dan aroma yang lebih ringan dibandingkan Arabika.
Faktor lain yang memengaruhi:
- Jenis kopi: Kopi Liberica lebih suka ketinggian 400-600 mdpl, sedangkan Kopi Excelsa lebih suka ketinggian 1.500-2.000 mdpl.
- Curah hujan: Kopi membutuhkan curah hujan yang cukup, tetapi tidak terlalu tinggi.
- Sinar matahari: Kopi membutuhkan sinar matahari yang cukup, tetapi juga perlu mendapatkan naungan.
Penting untuk dicatat:
- Semakin tinggi lokasi perkebunan kopi, biasanya cita rasa yang dihasilkan akan semakin baik.
- Ketinggian juga memengaruhi karakteristik fisik biji kopi, misalnya biji kopi Arabika di ketinggian tinggi cenderung lebih padat dan bergaris tengah rapat.
- Perbedaan ketinggian dapat berdampak pada keputusan petani dalam memilih jenis kopi yang akan ditanam.
Suhu Ideal
Suhu ideal untuk pertumbuhan tanaman kopi arabika adalah sekitar 16-22°C, sedangkan untuk kopi robusta sekitar 20-28°C.
Kopi arabika lebih cocok di daerah dengan ketinggian antara 1.000-2.100 meter dari permukaan laut, sementara robusta dapat tumbuh di ketinggian 400-1.200 meter.
Berikut adalah rincian lebih lanjut tentang suhu terbaik untuk tanaman kopi:
- Kopi Arabika:
- Suhu optimal: 16-22°C.
- Rentang yang dapat ditolerir: 18-24°C.
- Idealnya ditanam di ketinggian 1.000-2.100 meter dari permukaan laut.
- Kopi Robusta:
- Suhu optimal: 20-28°C.
- Idealnya ditanam di ketinggian 400-1.200 meter dari permukaan laut.
- Perubahan Suhu:
- Perubahan suhu yang signifikan, seperti penurunan 8-10°C di malam hari, dapat mendorong munculnya bunga.
- Panas berlebihan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terlalu cepat, dan bunga keluar terlalu dini, menjadikannya rentan terhadap hama.
- Suhu untuk Menyeduh Kopi:
- Suhu air yang ideal untuk menyeduh kopi biasanya antara 90-95°C.
- Suhu air yang tepat akan menghasilkan kopi dengan rasa yang lebih baik.
- Kondisi Topografi:
- Kondisi topografi, seperti adanya angin kencang, juga perlu diperhatikan.
- Pohon pelindung seperti dadap, lamtoro, atau sengon laut dapat digunakan untuk melindungi tanaman dari angin kencang.
Curah Hujan
Curah hujan yang optimal untuk tanaman kopi, baik arabika maupun robusta, adalah sekitar 1.200 hingga 2.500 mm per tahun, dengan jumlah bulan kering tidak lebih dari 3-5 bulan.
Curah hujan yang terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat berdampak negatif pada pertumbuhan dan kualitas biji kopi.
Lebih detail:
- Arabika: Kopi arabika umumnya membutuhkan curah hujan sekitar 1.500-2.500 mm per tahun. Curah hujan yang rendah dapat menyebabkan stres pada tanaman, sedangkan curah hujan yang tinggi, terutama saat panen, dapat menyebabkan biji kopi berjamur atau rusak.
- Robusta: Kopi robusta dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan yang lebih tinggi, sekitar 2.000-3.000 mm per tahun. Namun, curah hujan yang terlalu tinggi juga dapat berdampak negatif, terutama saat panen.
- Dampak curah hujan yang tidak tepat:
- Curah hujan yang terlalu rendah dapat menyebabkan biji kopi menjadi kecil dan kualitasnya menurun.
- Curah hujan yang terlalu tinggi, terutama saat panen, dapat menyebabkan buah kopi jatuh dan berfermentasi, serta membuat proses pengeringan biji kopi lebih sulit.
- Peran curah hujan dalam proses panen: Curah hujan yang tepat waktu dan terdistribusi merata sangat penting untuk pembentukan bunga hingga buah kopi, serta untuk menjaga kualitas biji kopi setelah panen.
Curah hujan yang optimal untuk tanaman kopi, baik Robusta maupun Arabika, bervariasi tergantung pada jenis kopi dan kondisi lingkungannya.
Secara umum, curah hujan tahunan yang ideal berkisar antara 1.200 hingga 2.500 mm, dengan adanya periode kering yang cukup untuk memberikan jeda bagi tanaman.
Lebih detailnya:
- Kopi Robusta: Membutuhkan curah hujan sekitar 2.000 – 2.500 mm per tahun, dengan 2-3 bulan kering.
- Kopi Arabika: Membutuhkan curah hujan sekitar 1.200 – 1.800 mm per tahun, dengan 1-4 bulan kering.
- Curah hujan yang terlalu rendah: Dapat menyebabkan stres air pada tanaman, sementara curah hujan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pembentukan bunga menjadi buah terganggu, bahkan dapat menyebabkan ceri kopi jatuh dan busuk.
- Jeda kering yang cukup: Perlu untuk memberikan waktu bagi tanaman untuk bereksi dan menyimpan nutrisi, kata Low Carbon Development Indonesia, kata BBPP Lembang.
- Pengaruh curah hujan: Curah hujan mempengaruhi pembentukan bunga hingga menjadi buah, serta kualitas biji kopi.
Jadi, curah hujan yang tepat tidak hanya penting untuk pertumbuhan tanaman, tetapi juga untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi.
Tanah (Kesuburan Tanah)
Tanah yang cocok untuk tanaman kopi umumnya adalah tanah yang subur, berdrainase baik, dan memiliki pH antara 4-6.
Tanah yang ideal juga memiliki kedalaman efektif yang cukup dalam (lebih dari 100 cm), gembur, serta kaya akan bahan organik dan unsur hara, terutama kalium (K).
Tanah andosol, yang banyak mengandung bahan organik karena penumpukan abu vulkanik, juga cocok untuk tanaman kopi, kata Sada Coffee.
Berikut adalah penjelasan lebih detail tentang jenis tanah yang cocok untuk tanaman kopi:
- Tanah subur: Tanaman kopi membutuhkan tanah yang kaya akan nutrisi agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Tanah subur dapat dicapai dengan pemberian pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang.
- Drainase baik: Tanah yang berdrainase baik akan mencegah terjadinya genangan air yang dapat merusak akar tanaman kopi. Tanah liat berat dan tanah dengan pH rendah umumnya tidak cocok karena dapat membatasi hasil panen.
- pH tanah: Kopi robusta tumbuh baik pada pH tanah 4-6, sedangkan kopi arabika lebih suka pH antara 5,5-6,5.
- Bahan organik: Kandungan bahan organik yang tinggi akan meningkatkan kesuburan tanah dan membantu tanaman kopi dalam menyerap nutrisi.
- Tanah andosol: Tanah andosol, yang berasal dari penumpukan abu vulkanik, sangat cocok untuk tanaman kopi karena kaya nutrisi dan memiliki struktur yang gembur.
- Tanah lempung berpasir: Tanah lempung berpasir yang dalam juga dianggap cocok karena memiliki drainase yang baik dan kandungan nutrisi yang memadai.
- Tekstur tanah: Kopi arabika sebaiknya ditanam di tanah berlempung dengan struktur permukaan tanah berbentuk remah.
Proses pasca panen
Proses pasca panen kopi meliputi serangkaian tahapan penting untuk menjaga kualitas biji kopi. Tahapan ini meliputi penyortiran, pengupasan kulit, fermentasi, pencucian, pengeringan, sortir biji, pengemasan, dan penyimpanan.
Terdapat dua metode utama, yaitu proses basah (washed) dan proses kering (dry). Proses basah melibatkan perendaman buah kopi untuk memisahkan biji dari daging buahnya, sedangkan proses kering melibatkan pengeringan langsung buah kopi.
Berikut adalah detail lebih lanjut tentang proses pasca panen kopi:
1. Penyortiran:
Buah kopi yang telah dipanen perlu disortir untuk memisahkan buah yang matang, kurang matang, dan rusak. Buah yang tidak matang atau rusak akan mempengaruhi kualitas kopi.
2. Pengupasan Kulit:
Kulit buah kopi (ceri) dihilangkan dengan menggunakan mesin depulper atau dengan cara manual. Proses ini memisahkan biji kopi dari daging buahnya.
3. Fermentasi:
Fermentasi dilakukan untuk menghilangkan lendir yang masih menempel pada biji kopi. Proses ini memakan waktu beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung pada suhu dan kelembaban lingkungan.
4. Pencucian:
Biji kopi yang sudah difermentasi dicuci bersih dengan air untuk menghilangkan sisa-sisa lendir dan kotoran.
5. Pengeringan:
Biji kopi dikeringkan hingga kadar airnya mencapai sekitar 11-12%. Pengeringan bisa dilakukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau menggunakan alat pengering.
6. Sortir Biji:
Biji kopi yang sudah kering diurutkan kembali untuk memastikan kualitasnya. Biji yang cacat atau tidak memenuhi standar akan dipisahkan.
7. Pengemasan:
Biji kopi yang sudah bersih dan berkualitas dikemas dalam wadah kedap udara untuk menjaga kesegarannya.
8. Penyimpanan:
Biji kopi yang sudah dikemas disimpan dalam kondisi yang sejuk dan kering untuk mencegah kerusakan.
Selain metode basah dan kering, terdapat juga metode honey dan metode natural yang menawarkan profil rasa yang unik.
Metode honey melibatkan fermentasi dengan lendir buah yang menempel, sedangkan metode natural melibatkan pengeringan buah kopi secara langsung.
Pemilihan metode pasca panen kopi akan mempengaruhi karakteristik rasa dan aroma biji kopi yang dihasilkan.k
Kopi Viral 2019

Kami tak hanya heboh, tetapi juga sangat bangga setelah kopi yang diseruput Presiden Jokowi berasal dari kampung kami.

Butuh Suplai Kopi Untuk Usaha CAFE Hub: 0812 827 9944

Salah satu Keunikan Kopi TOBA karena letak Desa Lumban Rau yang berada di wilayah pedalaman Danau Toba Kabupaten Toba, yang dikenal sebagai dataran tinggi dengan ketinggian antara 900 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata 19-22 derajat Celcius.


![Jasa Pendirian PT, CV, Koperasi, Yayasan, UD, Firma di Kota Bekasi [2025]](https://jasindopt.com/wp-content/uploads/2025/07/img_20250729_155446.jpg?w=1024)


