Tujuan Konseling Pranikah Kristen, Pertanyaan Wajib Ketika Konseling Pranikah

JasindoPT.com– Konseling pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah.

Konseling pra nikah Kristen adalah konseling khusus yang dilakukan bagi pasangan yang akan menikah atau pra nikah berdasarkan prinsip Alkitab.

Konseling pra nikah Kristen memiliki tiga tujuan, yaitu:

1. Persiapan Menghadapi Perbedaan

Setiap pasangan tidak hanya berbeda secara fisik, tetapi ada perbedaan dalam latar belakang. Dua orang dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tentunya menghadapi banyak hal yang harus disesuaikan.

Oleh sebab itu, calon pasangan harus mempersiapakan diri untuk menghadapi berbagai perbedaan dalam kehidupan pernikahan.

2. Bimbingan untuk Mengenal Diri Sendiri

Dalam pernikahan, kemampuan untuk dapat melihat dengan jujur keadaan diri kita sendiri adalah modal yang paling utama. Setiap kita pasti tidak senang melihat kesalahan sendiri. Lebih mudah bagi kita untuk mendapatkan kesalahan dalam diri orang lain. Menganggap diri sendiri benar.

Tuhan Yesus dengan jelas memperingatkan murid-murid-Nya “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3).

Sering menyalahkan orang lain. Tidak menyadari bahwa sumber dari segala persoalan itu mungkin adalah dari diri kita sendiri. Tidak heran bila terjadi perbedaan pendapat dalam kehidupan pernikahan. Oleh sebab itulah sangat perlu untuk mengenal diri sendiri.

3. Bimbingan Tentang Esensi Pernikahan Kristen

Memahami esensi dari pernikahan seperti yang dirancang Allah sejak semula tentang pernikahan, sangatlah penting bagi kelanggengan hubungan pernikahan. Allah menciptakan pernikahan sebagai lembaga pertama di dunia. 

Firman Tuhan mengatakan “tidak baik manusia itu seorang diri saja dan Allah memulai lembaga pernikahan sambil menyatakan bahwa seorang laki-laki harus bersatu dengan istrinya dan menjadi satu daging” (Kejadian 2:18, 24).

Dengan mengerti tujuan dari konseling ini maka pasangan pra nikah diharapkan mampu untuk membina dan membangun sebuah keluarga Kristen yang kuat sesuai dengan kehendak Tuhan.

Menjadi teladan bagi keluarga yang lain. Menjadi terang di tengah keluarga non-Kristen. Akhirnya pasangan ini akan melahirkan anak-anak yang takut akan Tuhan. Keluarga yang mengasihi Tuhan dan sesamanya. Keluarga yang memuliakan nama Tuhan.

Pertanyaan Diskusi:

  1. Menurut pendapat Anda, apakah konseling pranikah Kristen dapat membantu turunnya angka perceraian? Jelaskan!
  2. Apakah esensi pernikahan Kristen yang Anda ketahui? Jelaskan!

Pertanyaan yang Wajib Diajukan Ketika Konseling Pranikah

Berbicara tentang pernikahan, semua pasangan tujuannya sama yaitu sekali seumur hidup. Namun perjalanan pernikahan tidak melulu tentang sepakat untuk menghabiskan waktu bersama seumur hidup, tapi juga tentang bagaimana bertoleransi atas kekurangan dan kelebihan pasangan. Karena itu sebaiknya calon pengantin menjalani konseling pranikah. Mengapa?

Pernikahan sangat rentan mengalami friksi, sama seperti interaksi antar manusia pada umumnya. Bedanya pada pernikahan, Anda dan pasangan diharapkan bisa tetap bertahan meski friksi atau pertentangan tidak mungkin untuk dihindari.

Adapun manfaat konseling pranikah, seperti dilansir dari Mayo Clinic, adalah membantu Anda dan pasangan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, menjaga ekspektasi tetap realistis, serta mengembangkan kemampuan menemukan solusi dari setiap konflik yang terjadi. Harapannya, dengan mengikuti konseling pranikah, Anda dan pasangan saling menciptakan interaksi yang sehat dan positif.

Jika Anda dan pasangan sepakat untuk mengikuti konseling pranikah, sebaiknya tanyakan 9 pertanyaan ini pada sesi konsultasi. Dengan mendiskusikan topik-topik ini dengan didampingi oleh konselor yang ahli, maka proses penyatuan visi bisa lebih lancar sehingga risiko perceraian dapat ditekan secara optimal.

1. Apakah Makna Pernikahan Untuk Kamu?

Pertanyaan ini penting untuk diajukan kepada pasangan saat konseling pranikah agar Anda dapat melihat bagaimana pasangan mengartikan komitmen dalam pernikahan.

Sering kali orang memutuskan menikah karena sekadar memenuhi tuntutan masyarakat tanpa mengetahui apa visinya dalam pernikahan.

Tak hanya itu, pertanyaan pembukaan ini akan mengarah pada diskusi tentang bagaimana karakter Anda dan pasangan bisa saling melengkapi dalam mewujudkan visi pernikahan.

2. Apakah Pernikahan Ini Ingin Memiliki Anak atau Tidak?

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, salah satu tujuan menikah adalah untuk berketurunan. Tujuan ini sangat dipengaruhi oleh nilai agama serta budaya pada masyarakat tradisional seperti Indonesia.

Namun masyarakat yang makin berkembang juga menghadirkan pilihan-pilihan baru dalam pernikahan, termasuk keputusan punya anak atau tidak.

Hal ini penting untuk disepakati sebelum menikah agar Anda dan pasangan bisa menyesuaikan dengan ekspektasi masing-masing.

Pada prinsipnya apapun pilihannya, punya anak atau tidak punya anak, Anda dan pasangan wajib mempersiapkan fisik, psikis dan finansial demi menciptakan rumah tangga yang sehat.

3. Bagaimanakah Keuangan Rumah Tangga Akan Diatur?


Uang adalah topik yang sangat sensitif dalam rumah tangga. Dan membicarakannya sejak dini adalah “pelampung” yang akan menyelamatkan rumah tangga Anda dari konflik besar.

Yang menyenangkan dari mengikuti konseling pranikah adalah pertanyaan pembuka datangnya dari konselor. Jadi perasaan sungkan untuk memulai percakapan tentang uang bisa diminimalisir.

Apalagi konselor pranikah adalah orang yang terlatih, maka semua aspek keuangan seperti siapa yang akan mengatur keuangan, apakah sumber penghasilan digabung atau terpisah, berapa besaran cicilan dalam setahun, bagaimanakah membantu keluarga besar secara finansial.

4. Dimanakah Kita akan Tinggal Setelah Menikah?

Pada masyarakat dengan nilai kekeluargaan yang kental seperti masyarakat Indonesia, isu tempat tinggal setelah menikah juga sering menjadi sumber konflik. Bicarakan dengan pasangan apakah setelah menikah akan tinggal di rumah sendiri atau bersama orang tua.

Apa saja kelebihan dan kekurangannya, lalu bagaimana hal ini berkaitan dengan visi pernikahan Anda dan pasangan. Topik tentang tempat tinggal pun penting dibicarakan jika Anda dan pasangan sama-sama bekerja.

Apakah tempat tinggal dipilih yang dekat dengan lokasi kantor Anda atau pasangan? Atau jika salah satu diminta untuk pindah keluar kota, apakah semuanya ikut pindah atau tidak?

5. Bagaimanakah Mengatur Hubungan Dengan Keluarga Besar?

Tanpa disadari para pengantin baru sering kali seperti disuruh memilih dekat ke keluarga suami atau keluarga istri. Padahal menikah artinya membentuk keluarga baru.

Artinya Anda dan pasangan perlu refleksi bersama batas kompromi seperti apa yang bisa diterapkan menyangkut turut campur keluarga besar dalam urusan keluarga baru Anda. Ingatlah Anda dan pasangan tengah mempersiapkan entitas keluarga baru, karena itu perlu kesiapan untuk menjadi mandiri.

6. Bagaimana Kamu Menggambarkan Kebutuhan Seks?

Sama seperti topik keuangan, membicarakan kebutuhan seks dengan calon suami atau istri bisa jadi tidak nyaman. Tapi Anda dan pasangan perlu tahu bagaimana satu sama lain menempatkan aktivitas seks dalam interaksi berumah tangga.

Tujuannya adalah untuk menyatukan ekspektasi serta membangun kepercayaan. Topik ini bisa dibilang sebagai elemen dasar dalam membentuk hubungan suami-istri yang sehat.

7. Bagaimanakah Peran Agama Dalam Rumah Tangga?

Sebagian besar dasar pernikahan dilakukan di Indonesia adalah untuk menggenapi ajaran agama. Itu mengapa menikah disebut sebagai ibadah. Meski begitu, tidak banyak calon pengantin yang membicarakan tentang bagaimana peran agama dalam kehidupan masing-masing.

Lalu, bagaimana nilai-nilai spiritual ini diimplementasikan dalam hubungan suami-istri serta diturunkan kepada anak-anak? Menjawab semua pertanyaan ini akan memberikan gambaran bagaimana rumah tangga akan bertumbuh.

8. Apakah yang Dilakukan Jika Terjadi Perselingkuhan?

Tentu Anda dan pasangan tidak menginginkan terjadinya perselingkuhan. Tapi jika hal buruk ini terjadi, bagaimanakah Anda dan pasangan menyikapinya?

Apakah perceraian menjadi sebuah pilihan? Selain menjawab semua pertanyaan itu, konselor juga akan mengarahkan diskusi tentang bagaimana untuk menghindari perselingkuhan. “Ritual” apa yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga Anda dan pasangan tetap saling mencintai.

9. Ketika Konflik Terjadi, Bagaimanakah Strategi Komunikasinya?

Tujuan menjawab pertanyaan ini adalah untuk mengukur bagaimana Anda dan pasangan mengatur emosi masing-masing ketika situasi tengah memanas. Lalu pendekatan seperti apa yang diinginkan Anda dan pasangan agar konflik tidak berlarut-larut.

Terkadang ada pasangan yang menyepakati, pertengkaran tidak boleh lebih dari 24 jam. Artinya, keduanya sepakat untuk menyampaikan keberatan dan menemukan solusi agar masalah segera teratasi.

Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana agar masalah yang sama tidak terulang kembali. Sehingga kualitas hubungan suami-istri nantinya tidak hanya sehat tapi juga memberikan ruang untuk saling bertumbuh.

Tips Memilih Pasangan Terbaik dengan Formula ABCDEF, Jomblo Harus Tahu

Pernikahan tentu menjadi dambaan setiap orang. Namun untuk mewujudkannya bukan hal yang mudah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi kedua pasangan. Baik syarat menurut agama, hukum negara, maupun adat istiadat suatu daerah.

Yang tidak kalah pentingnya yakni terkait dengan calon pasangan. Untuk mencari maupun memilihnya pun setiap pasangan tentu berbeda. Artinya, mereka punya kriteria sendiri-sendiri.

Lantas apa yang menjadi tolok ukur dalam memilih pasangan terbaik?

Nah, berikut Deny Hen akan membeberkan tips memilih pasangan terbaik. Deny Hen sendiri merupakan konselor pernikahan sekaligus penulis buku.

Menurut dia, ada sejumlah aspek yang harus dipastikan apabila hendak memilih pasangan untuk dinikahi. “Saya selalu menggunakan formula ABCDEF.

1. ‘A’ itu Apperience.

Jadi fisiknya cocok enggak,” ujar Deny saat peluncuran dan bedah buku ‘The Great Marriage’ di Jakarta, Sabtu (15/9).

2. Sementara ‘B’, lanjut Deny, ialah ‘Background’ atau latar belakang pasangan.

Hal ini termasuk ras, suku, agama dan lainnya. “Kita enggak memungkiri walaupun kita hidup dalam Bhinneka Tunggal Ika, memilih pasangan (tetap) yang dekat (sama). Apalagi kalau ada beda agama. Di Indonesia sendiri sudah enggak memungkinkan (menikah beda agama), harus menikah di luar sana,” tuturnya.

3. Untuk ‘C’ dari ABCDEF, yakni ‘Character’ atau karakter.

Mengetahui karakter dari pasangan yang nantinya bersama seumur hidup dinilai penting. Sebab dengan memahami karakter, persoalan seperti pasangan kerap berperilaku kasar atau biasa melakukan kekerasan, bisa diantisipasi sejak awal.

4. Sementara ‘D’ merupakan kependekan dari ‘Diffusion’ atau keyakinan yang dianut pasangan.

Keyakinan yang dimaksud bukan melulu soal agama, tapi juga bagaimana cara mendidik anak secara baik dan lainnya. “Nah nilai-nilai ini perlu disepahamkan. Tiap kali ada perbedaan nilai, ini bisa menjadi potensi konflik dalam keluarga,” kata Deny.

5. Sementara ‘E’, ialah akronim dari ‘Education’ atau pendidikan.

Diharapkan, tingkat pendidikan antar pasangan tidak terlalu jauh. Calon suami maupun istri, menurut Deny, bakal mengalami kesulitan berkomunikasi apabila memiliki perbedaan latar belakang pendidikan yang mencolok.

“Nah ini (tingkat pendidikan pasangan yang jauh) kan kalau komunikasi sehari-hari yang intim kan jadi masalah,” katanya.

6. Terakhir untuk ‘F’ adalah ‘Financial’.

Menurut Deny, Financial memang sebenarnya bukan masalah baik ekonomi kelas atas maupun bawah. Namun, keuangan bisa menjadi potensi konflik.

“Selalu ini kan yang diomongin ‘cinta karena uang’. Ini salah satu hal yang harus dipikirkan,” jelas pendiri Pembelajar Hidup, Life Coach dan Marriage Coach ini.

Tips dari Pakar agar Pernikahan Langgeng dan Bahagia

Siapa sih yang tak ingin punya pernikahan yang langgeng dan awet? Nggak cuma bertahan lama, tapi gimana caranya kita, pasangan dan anak-anak bisa bahagia saat bertahan dalam rumah tangga yang sudah berjalan lama.

Nah, 6 tips dari Deny Hen MM CLC, founder ‘Pembelajar Hidup’ yang juga life and marriage coach, bisa Bunda terapkan untuk mendapatkan pernikahan yang sehat dan bahagia. Yuk, simak bersama beberapa terobosan tersebut.

1. Mindset Pernikahan

Semua berawal dari pola pikir atau mindset. Apa sih pernikahan itu? Apa itu cinta dan tujuan pernikahan?

Pola pikir apa yang wajib dimiliki pasangan suami istri untuk mewujudkan pernikahan yang hebat. Bahagia itu kalau kita jalanin pernikahan dengan benar,” kata Deny dalam Peluncuran dan Bincang Buku ‘The Great Marriage’ di Gramedia Central Park, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Seperti dilansir dalam bukunya, hal pertama yang harus kita ubah untuk mendapat pernikahan yang sehat dan bahagia adalah mindset. Dari mindset akan menentukan tercapai atau tidaknya keinginan dan mengarahkan hidup kita. Carol Dweck, profesor psikologi dari stanford University menemukan bukan bakat, kecerdasan, atau usaha yang menuntun kita menuju kesuksesan.

“Kunci sebenarnya adalah pola pikir,” kata Denny.

2. Best Friend Forever (BFF)

Dalam suatu pernikahan, mengembangkan persahabatan dengan pasangan hidup bisa menjadi dasar pernikahan yang hebat. Namun, kadang hal ini nggak mudah. Nggak hanya wanita tapi sebagian pria juga enggan menjadikan pasangannya sebagai sahabat, seakan-akan persahabatan dan keromantisan itu tak dapat disatukan.

“Padahal penelitian menunjukkan pernikahan yang awet adalah pernikahan di mana seseorang bisa menjadikan pasangan sebagai sahabatnya,” tutur Denny.

3. Menikmati Keromantisan dan Seks dalam Pernikahan

Soal keromantisan sama dengan bicara unsur gairah dalam cinta. Kata Deny, gairah seringkali menyala-nyala saat masih pacaran dan di awal pernikahan tapi setelah 2 sampai 4 tahun menikah passionate love akan padam. Nah, sebagian pasangan mengalihkan cintanya menjadi friendship love. Friendship layaknya friendzone hanya saja individu sudah terikat pernikahan dan menerima bahwa ‘life goes on’.

“Pasangan ini merasa tak perlu lagi membangkitkan gairah dalam pernikahan, apalagi bila anak sudah besar. Harus diakui, banyak pernikahan yang sukses sekalipun pasangan suami istri sudah tidak memiliki passion atau gairah. Namun, punya gairah bisa memperkaya pernikahan dan membuat pernikahan lebih mudah dipertahankan,” papar Deny.

4. Komunikasi

Suatu komunikasi dikatakan baik jika salah seorang berbicara sedangkan yang lain mendengarkan dan kemudian merespons bahwa dia mengerti. Nah, respons tersebut bisa dengan anggukan, gumaman, atau menanyakan hal yang tidak dimengerti begitu juga sebailknya.

“Yang jadi masalah, komunikasi sering terganggu sehingga mudah terjadi miscommunication. Misal, salah satu berbicara tapi yang lain tidak memberi respons atau keduanya berbicara tanpa ada yang mendengarkan atau merespons,” ungkap Deny.

Karena itu dikatakan Deny, kita perlu mempelajari terobosan dalam komunikasi untuk memperbaiki cara kita berbicara dalam rumah tangga.


5. Bertengkar dengan ‘Cinta’

Saat menikah banyak banget hal dalam rumah tangga yang bisa menyulut pertengkaran dari mulai hal kecil seperti keran rusak, cara menaruh barang, menutup kloset, anak sekolah, destinasi liburan, kehadiran mertua, sampai penggunaan uang.

“Seringkali masalahnya bukan pada diri pasangan, melainkan pada diri kita sendiri. Setiap pertengkaran perlu keahlian khusus untuk meminimalkan konflik, keahlian itu saya sebut ‘bertengkar dengan cinta’,” ungkap Deny

6. Komitmen

Ayah atau Bunda masih ingat janji masing-masing ketika menikah? Sebagian dari kita mengucapkannya dengan penuh kesungguhan dong pastinya. Sayangnya tidak selalu ucapan tersebut dijalankan.

Nggak jarang kata-kata itu hanya dianggap slogan dan formalitas kosong yang dapat dilanggar begitu saja saat kita merasa tidak lagi berkenan dengan pasangan. Padahal ya, Bun, kata-kata komitmen pada janji pernikahan merupakan deklarasi yang disaksikan oleh banyak orang seperti menyatakan pada publik bahwa kita memutuskan untuk selalu bersama dengan pasangan apapun keadaannya.

“Untuk menghangatkan hubungan kembali sambill mengingat janji pernikahan kita, coba deh komunikasi 15 menit sehari sama pasangan, nggak perlu lama-lama.

Pelukan 3 kali sehari atau lainnya. Begini, adanya anak akan menambah kompleksitas pernikahan karena itu kita harus pintar-pintar cari waktu dengan pasangan,” ungkap Deny. 

%d blogger menyukai ini: